Sabtu, 17 November 2012

Untukmu yang Menguatkan Langkahku


Ku ucapkan sapa terindah dalam islam untuk saudara tercintaku..
Assalamu’alaikum wr wb ukhtiku….

Ukhtiku yang na cintai karena Allah SWT…
Tak terasa empat tahun kan menjelang…
Ku lewatkan hari denganmu selama kurang lebih dua tahun di kampus merah maron
Sebentar lagi kan tiba waktu kita untuk saling berjuang dimedan dakwah kita masing-masing

Ukhtiku..
Afwan ketika suatu hari nanti ada janji na padamu yang tak bisa na penuhi
Sungguh tak ada maksud di hati sedikitpun tuk tak menunaikan janji itu padamu

Ukhtiku…
Syukron untuk semua perhatian yang engkau berikan untuk na
Syukron telah bersedia menjadi tempat na tuk bermanja-manja, berkeluh kesah,
Dan syukron telah meminjamkan pundakmu ketika na menangis,
Syukron atas waktu yang engkau habiskan hanya untuk bisa memahami na,

Ukhtiku…
Ketika wajahku mulai memudar dari ingatanmu,
Ingatlah betapa banyak waktu yang kita lewatkan bersama,
Ingatlah ketika engkau mengatakan padaku “ukhti isna ini, siki-siki nangis, siki-siki nangis…”
Ingatlah ketika na berteriak saat engkau mulai menakutiku,

Ukhtiku…
Kita tahu pasti betapa panjangnya jalan ini,
Namun sungguh kemenangan islam hanyalah tinggal menunggu waktu,
Dan aku ingin melihat sosokmu ketika islam kembali menjadi pusat peradaban dunia,

Ukhtiku…
Kita sama tahu betapa angin selalu mencoba tuk menumbangkan langkah di jalan ini,
Angin itupun semakin kencang bertiup tatkala ia sadar bahwa jarak telah memisahkan kita,
Namun ingatlah wahai ukhtiku, betapa Allah telah memilih kita,
Engkau yang tak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya,
Kini menjadi orang yang paling paham tentang diri ini di kota yang sama asing bagi kita,

Ukhtiku yang na belajar banyak hal darimu…
Ketika virus kefuturan suatu hari mendatangimu,
Maka enyahkanlah ia,
Ingatlah ukhti ketika kita saling bergandeng dalam keletihan di agenda-agenda dakwah,
Ingatlah ketika semua orang menggelarkan “As-Shobiyah” karna langkah kita yang tak terpisah,
Ingatlah ketika kita saling memacu semangat ketika langkah kita mulai kendur,

Ukhtiku…
Ketika engkau merasa militansimu mulai redup,
Ingatlah, ketika kita tilawah bersama di masjid kampus,
Ketika kita sholat magrib bersama dan na paksa anti tuk jadi imam, engkaupun berkata “selalu asti, selalu asti…”
Ingatlah ketika kita sama belajar berikan yang terbaik untuk KOMINFO,
Ingatlah betapa Hasan Al-Banna berjuang tuk melahirkan generasi robbani dan syahid di tangan para musuh islam,
Ingatlah betapa Sayyid Quthb senantiasa di fitnah namun tetap berdiri dengan gagah mengibarkan bendera dakwah,
Lalu bagaimana dengan kita?

Ukhtiku yang darimu aku belajar arti senyuman…
Jika suatu hari nanti Allah memberikan kesempatan pada kita untuk kembali bertemu,
Aku ingin melihat engkau dengan penampilanmu ketika kita berada di dakwah kampus,
Namun jika memang tak lagi ada kesempatan untuk kita untuk saling bertemu,
Maka do’akan na agar termasuk dalam golongan orang yang memenuhi surga Sang Illahi,
Agar ku mampu melihatmu kelak,

Ukhtiku…
Ketika engkau telah menemukan teman yang kan meringankan langkahmu di jalan ini,
Maka akupun turut bahagia,
Semoga ia selalu jadi yang terbaik untukmu,
Yang senantiasa mengobarkan semangat dakwahmu, bukan meredupkannya,
Yang senantiasa meridhoimu tuk merapatkan barisan di jalan ini, bukan merenggangkannya,
Yang senantiasa menjadi imammu…
Ingatkah engkau ketika kita sama berkata Islampun tak cukup memenuhi kriteria….
Fikroh pun menjadi tuntutan untuk kita….
Dan insya’allah engkau mendapatkan yang sefikroh dengan kita…

Ukhtiku…
Do’akan na semoga na senantiasa mampu menjaga langkah ini,
Semoga na mampu memilih pilihan yang terbaik menurut Nya
Semoga na senantiasa menjadikan dakwah sebagai nafas kehidupan ini,
Dan semoga Allah senantiasa memilih na tuk menyelesaikan proyek-proyek besar Nya,
Dan semoga takkan pernah terselip rasa takut untuk berkorban jiwa dan raga na di jalan ini

Bismillahirrohmaanirrohiim
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu dijalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Sekiranya yang kamu serukan pada mereka ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan nama Allah “jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu,” mereka membinasahkan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.
Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau member izin pada mereka untuk tidak pergi berperang, sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar berhalangan dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian tidak akan meminta izin padamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa.
Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan.” (Q.S. At-taubah: 41-45)

Sekali lagi, trimakasih untuk semua maafmu untukku atas segala khilafku…

1 Muharram 1434 H

Untukmu yang Menguatkan Langkahku


Ku ucapkan sapa terindah dalam islam untuk saudara tercintaku..
Assalamu’alaikum wr wb ukhtiku….

Ukhtiku yang na cintai karena Allah SWT…
Tak terasa empat tahun kan menjelang…
Ku lewatkan hari denganmu selama kurang lebih dua tahun di kampus merah maron
Sebentar lagi kan tiba waktu kita untuk saling berjuang dimedan dakwah kita masing-masing

Ukhtiku..
Afwan ketika suatu hari nanti ada janji na padamu yang tak bisa na penuhi
Sungguh tak ada maksud di hati sedikitpun tuk tak menunaikan janji itu padamu

Ukhtiku…
Syukron untuk semua perhatian yang engkau berikan untuk na
Syukron telah bersedia menjadi tempat na tuk bermanja-manja, berkeluh kesah,
Dan syukron telah meminjamkan pundakmu ketika na menangis,
Syukron atas waktu yang engkau habiskan hanya untuk bisa memahami na,

Ukhtiku…
Ketika wajahku mulai memudar dari ingatanmu,
Ingatlah betapa banyak waktu yang kita lewatkan bersama,
Ingatlah ketika engkau mengatakan padaku “ukhti isna ini, siki-siki nangis, siki-siki nangis…”
Ingatlah ketika na berteriak saat engkau mulai menakutiku,

Ukhtiku…
Kita tahu pasti betapa panjangnya jalan ini,
Namun sungguh kemenangan islam hanyalah tinggal menunggu waktu,
Dan aku ingin melihat sosokmu ketika islam kembali menjadi pusat peradaban dunia,

Ukhtiku…
Kita sama tahu betapa angin selalu mencoba tuk menumbangkan langkah di jalan ini,
Angin itupun semakin kencang bertiup tatkala ia sadar bahwa jarak telah memisahkan kita,
Namun ingatlah wahai ukhtiku, betapa Allah telah memilih kita,
Engkau yang tak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya,
Kini menjadi orang yang paling paham tentang diri ini di kota yang sama asing bagi kita,

Ukhtiku yang na belajar banyak hal darimu…
Ketika virus kefuturan suatu hari mendatangimu,
Maka enyahkanlah ia,
Ingatlah ukhti ketika kita saling bergandeng dalam keletihan di agenda-agenda dakwah,
Ingatlah ketika semua orang menggelarkan “As-Shobiyah” karna langkah kita yang tak terpisah,
Ingatlah ketika kita saling memacu semangat ketika langkah kita mulai kendur,

Ukhtiku…
Ketika engkau merasa militansimu mulai redup,
Ingatlah, ketika kita tilawah bersama di masjid kampus,
Ketika kita sholat magrib bersama dan na paksa anti tuk jadi imam, engkaupun berkata “selalu asti, selalu asti…”
Ingatlah ketika kita sama belajar berikan yang terbaik untuk KOMINFO,
Ingatlah betapa Hasan Al-Banna berjuang tuk melahirkan generasi robbani dan syahid di tangan para musuh islam,
Ingatlah betapa Sayyid Quthb senantiasa di fitnah namun tetap berdiri dengan gagah mengibarkan bendera dakwah,
Lalu bagaimana dengan kita?

Ukhtiku yang darimu aku belajar arti senyuman…
Jika suatu hari nanti Allah memberikan kesempatan pada kita untuk kembali bertemu,
Aku ingin melihat engkau dengan penampilanmu ketika kita berada di dakwah kampus,
Namun jika memang tak lagi ada kesempatan untuk kita untuk saling bertemu,
Maka do’akan na agar termasuk dalam golongan orang yang memenuhi surga Sang Illahi,
Agar ku mampu melihatmu kelak,

Ukhtiku…
Ketika engkau telah menemukan teman yang kan meringankan langkahmu di jalan ini,
Maka akupun turut bahagia,
Semoga ia selalu jadi yang terbaik untukmu,
Yang senantiasa mengobarkan semangat dakwahmu, bukan meredupkannya,
Yang senantiasa meridhoimu tuk merapatkan barisan di jalan ini, bukan merenggangkannya,
Yang senantiasa menjadi imammu…
Ingatkah engkau ketika kita sama berkata Islampun tak cukup memenuhi kriteria….
Fikroh pun menjadi tuntutan untuk kita….
Dan insya’allah engkau mendapatkan yang sefikroh dengan kita…

Ukhtiku…
Do’akan na semoga na senantiasa mampu menjaga langkah ini,
Semoga na mampu memilih pilihan yang terbaik menurut Nya
Semoga na senantiasa menjadikan dakwah sebagai nafas kehidupan ini,
Dan semoga Allah senantiasa memilih na tuk menyelesaikan proyek-proyek besar Nya,
Dan semoga takkan pernah terselip rasa takut untuk berkorban jiwa dan raga na di jalan ini

Bismillahirrohmaanirrohiim
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu dijalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Sekiranya yang kamu serukan pada mereka ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan nama Allah “jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu,” mereka membinasahkan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.
Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau member izin pada mereka untuk tidak pergi berperang, sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar berhalangan dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian tidak akan meminta izin padamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa.
Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan.” (Q.S. At-taubah: 41-45)

Sekali lagi, trimakasih untuk semua maafmu untukku atas segala khilafku…

1 Muharram 1434 H

Untukmu yang Menguatkan Langkahku


Ku ucapkan sapa terindah dalam islam untuk saudara tercintaku..
Assalamu’alaikum wr wb ukhtiku….

Ukhtiku yang na cintai karena Allah SWT…
Tak terasa empat tahun kan menjelang…
Ku lewatkan hari denganmu selama kurang lebih dua tahun di kampus merah maron
Sebentar lagi kan tiba waktu kita untuk saling berjuang dimedan dakwah kita masing-masing

Ukhtiku..
Afwan ketika suatu hari nanti ada janji na padamu yang tak bisa na penuhi
Sungguh tak ada maksud di hati sedikitpun tuk tak menunaikan janji itu padamu

Ukhtiku…
Syukron untuk semua perhatian yang engkau berikan untuk na
Syukron telah bersedia menjadi tempat na tuk bermanja-manja, berkeluh kesah,
Dan syukron telah meminjamkan pundakmu ketika na menangis,
Syukron atas waktu yang engkau habiskan hanya untuk bisa memahami na,

Ukhtiku…
Ketika wajahku mulai memudar dari ingatanmu,
Ingatlah betapa banyak waktu yang kita lewatkan bersama,
Ingatlah ketika engkau mengatakan padaku “ukhti isna ini, siki-siki nangis, siki-siki nangis…”
Ingatlah ketika na berteriak saat engkau mulai menakutiku,

Ukhtiku…
Kita tahu pasti betapa panjangnya jalan ini,
Namun sungguh kemenangan islam hanyalah tinggal menunggu waktu,
Dan aku ingin melihat sosokmu ketika islam kembali menjadi pusat peradaban dunia,

Ukhtiku…
Kita sama tahu betapa angin selalu mencoba tuk menumbangkan langkah di jalan ini,
Angin itupun semakin kencang bertiup tatkala ia sadar bahwa jarak telah memisahkan kita,
Namun ingatlah wahai ukhtiku, betapa Allah telah memilih kita,
Engkau yang tak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya,
Kini menjadi orang yang paling paham tentang diri ini di kota yang sama asing bagi kita,

Ukhtiku yang na belajar banyak hal darimu…
Ketika virus kefuturan suatu hari mendatangimu,
Maka enyahkanlah ia,
Ingatlah ukhti ketika kita saling bergandeng dalam keletihan di agenda-agenda dakwah,
Ingatlah ketika semua orang menggelarkan “As-Shobiyah” karna langkah kita yang tak terpisah,
Ingatlah ketika kita saling memacu semangat ketika langkah kita mulai kendur,

Ukhtiku…
Ketika engkau merasa militansimu mulai redup,
Ingatlah, ketika kita tilawah bersama di masjid kampus,
Ketika kita sholat magrib bersama dan na paksa anti tuk jadi imam, engkaupun berkata “selalu asti, selalu asti…”
Ingatlah ketika kita sama belajar berikan yang terbaik untuk KOMINFO,
Ingatlah betapa Hasan Al-Banna berjuang tuk melahirkan generasi robbani dan syahid di tangan para musuh islam,
Ingatlah betapa Sayyid Quthb senantiasa di fitnah namun tetap berdiri dengan gagah mengibarkan bendera dakwah,
Lalu bagaimana dengan kita?

Ukhtiku yang darimu aku belajar arti senyuman…
Jika suatu hari nanti Allah memberikan kesempatan pada kita untuk kembali bertemu,
Aku ingin melihat engkau dengan penampilanmu ketika kita berada di dakwah kampus,
Namun jika memang tak lagi ada kesempatan untuk kita untuk saling bertemu,
Maka do’akan na agar termasuk dalam golongan orang yang memenuhi surga Sang Illahi,
Agar ku mampu melihatmu kelak,

Ukhtiku…
Ketika engkau telah menemukan teman yang kan meringankan langkahmu di jalan ini,
Maka akupun turut bahagia,
Semoga ia selalu jadi yang terbaik untukmu,
Yang senantiasa mengobarkan semangat dakwahmu, bukan meredupkannya,
Yang senantiasa meridhoimu tuk merapatkan barisan di jalan ini, bukan merenggangkannya,
Yang senantiasa menjadi imammu…
Ingatkah engkau ketika kita sama berkata Islampun tak cukup memenuhi kriteria….
Fikroh pun menjadi tuntutan untuk kita….
Dan insya’allah engkau mendapatkan yang sefikroh dengan kita…

Ukhtiku…
Do’akan na semoga na senantiasa mampu menjaga langkah ini,
Semoga na mampu memilih pilihan yang terbaik menurut Nya
Semoga na senantiasa menjadikan dakwah sebagai nafas kehidupan ini,
Dan semoga Allah senantiasa memilih na tuk menyelesaikan proyek-proyek besar Nya,
Dan semoga takkan pernah terselip rasa takut untuk berkorban jiwa dan raga na di jalan ini

Bismillahirrohmaanirrohiim
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu dijalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Sekiranya yang kamu serukan pada mereka ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan nama Allah “jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu,” mereka membinasahkan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.
Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau member izin pada mereka untuk tidak pergi berperang, sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar berhalangan dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian tidak akan meminta izin padamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa.
Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan.” (Q.S. At-taubah: 41-45)

Sekali lagi, trimakasih untuk semua maafmu untukku atas segala khilafku…

1 Muharram 1434 H

Untukmu yang Menguatkan Langkahku


Ku ucapkan sapa terindah dalam islam untuk saudara tercintaku..
Assalamu’alaikum wr wb ukhtiku….

Ukhtiku yang na cintai karena Allah SWT…
Tak terasa empat tahun kan menjelang…
Ku lewatkan hari denganmu selama kurang lebih dua tahun di kampus merah maron
Sebentar lagi kan tiba waktu kita untuk saling berjuang dimedan dakwah kita masing-masing

Ukhtiku..
Afwan ketika suatu hari nanti ada janji na padamu yang tak bisa na penuhi
Sungguh tak ada maksud di hati sedikitpun tuk tak menunaikan janji itu padamu

Ukhtiku…
Syukron untuk semua perhatian yang engkau berikan untuk na
Syukron telah bersedia menjadi tempat na tuk bermanja-manja, berkeluh kesah,
Dan syukron telah meminjamkan pundakmu ketika na menangis,
Syukron atas waktu yang engkau habiskan hanya untuk bisa memahami na,

Ukhtiku…
Ketika wajahku mulai memudar dari ingatanmu,
Ingatlah betapa banyak waktu yang kita lewatkan bersama,
Ingatlah ketika engkau mengatakan padaku “ukhti isna ini, siki-siki nangis, siki-siki nangis…”
Ingatlah ketika na berteriak saat engkau mulai menakutiku,

Ukhtiku…
Kita tahu pasti betapa panjangnya jalan ini,
Namun sungguh kemenangan islam hanyalah tinggal menunggu waktu,
Dan aku ingin melihat sosokmu ketika islam kembali menjadi pusat peradaban dunia,

Ukhtiku…
Kita sama tahu betapa angin selalu mencoba tuk menumbangkan langkah di jalan ini,
Angin itupun semakin kencang bertiup tatkala ia sadar bahwa jarak telah memisahkan kita,
Namun ingatlah wahai ukhtiku, betapa Allah telah memilih kita,
Engkau yang tak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya,
Kini menjadi orang yang paling paham tentang diri ini di kota yang sama asing bagi kita,

Ukhtiku yang na belajar banyak hal darimu…
Ketika virus kefuturan suatu hari mendatangimu,
Maka enyahkanlah ia,
Ingatlah ukhti ketika kita saling bergandeng dalam keletihan di agenda-agenda dakwah,
Ingatlah ketika semua orang menggelarkan “As-Shobiyah” karna langkah kita yang tak terpisah,
Ingatlah ketika kita saling memacu semangat ketika langkah kita mulai kendur,

Ukhtiku…
Ketika engkau merasa militansimu mulai redup,
Ingatlah, ketika kita tilawah bersama di masjid kampus,
Ketika kita sholat magrib bersama dan na paksa anti tuk jadi imam, engkaupun berkata “selalu asti, selalu asti…”
Ingatlah ketika kita sama belajar berikan yang terbaik untuk KOMINFO,
Ingatlah betapa Hasan Al-Banna berjuang tuk melahirkan generasi robbani dan syahid di tangan para musuh islam,
Ingatlah betapa Sayyid Quthb senantiasa di fitnah namun tetap berdiri dengan gagah mengibarkan bendera dakwah,
Lalu bagaimana dengan kita?

Ukhtiku yang darimu aku belajar arti senyuman…
Jika suatu hari nanti Allah memberikan kesempatan pada kita untuk kembali bertemu,
Aku ingin melihat engkau dengan penampilanmu ketika kita berada di dakwah kampus,
Namun jika memang tak lagi ada kesempatan untuk kita untuk saling bertemu,
Maka do’akan na agar termasuk dalam golongan orang yang memenuhi surga Sang Illahi,
Agar ku mampu melihatmu kelak,

Ukhtiku…
Ketika engkau telah menemukan teman yang kan meringankan langkahmu di jalan ini,
Maka akupun turut bahagia,
Semoga ia selalu jadi yang terbaik untukmu,
Yang senantiasa mengobarkan semangat dakwahmu, bukan meredupkannya,
Yang senantiasa meridhoimu tuk merapatkan barisan di jalan ini, bukan merenggangkannya,
Yang senantiasa menjadi imammu…
Ingatkah engkau ketika kita sama berkata Islampun tak cukup memenuhi kriteria….
Fikroh pun menjadi tuntutan untuk kita….
Dan insya’allah engkau mendapatkan yang sefikroh dengan kita…

Ukhtiku…
Do’akan na semoga na senantiasa mampu menjaga langkah ini,
Semoga na mampu memilih pilihan yang terbaik menurut Nya
Semoga na senantiasa menjadikan dakwah sebagai nafas kehidupan ini,
Dan semoga Allah senantiasa memilih na tuk menyelesaikan proyek-proyek besar Nya,
Dan semoga takkan pernah terselip rasa takut untuk berkorban jiwa dan raga na di jalan ini

Bismillahirrohmaanirrohiim
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu dijalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Sekiranya yang kamu serukan pada mereka ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan nama Allah “jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu,” mereka membinasahkan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.
Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau member izin pada mereka untuk tidak pergi berperang, sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar berhalangan dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian tidak akan meminta izin padamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertaqwa.
Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan.” (Q.S. At-taubah: 41-45)

Sekali lagi, trimakasih untuk semua maafmu untukku atas segala khilafku…

1 Muharram 1434 H