Ku ucapkan sapa terindah dalam islam untuk saudara
tercintaku..
Assalamu’alaikum wr wb ukhtiku….
Ukhtiku yang na cintai karena Allah SWT…
Tak terasa empat tahun kan menjelang…
Ku lewatkan hari denganmu selama kurang lebih dua tahun di
kampus merah maron
Sebentar lagi kan tiba waktu kita untuk saling berjuang
dimedan dakwah kita masing-masing
Ukhtiku..
Afwan ketika suatu hari nanti ada janji na padamu yang tak
bisa na penuhi
Sungguh tak ada maksud di hati sedikitpun tuk tak menunaikan
janji itu padamu
Ukhtiku…
Syukron untuk semua perhatian yang engkau berikan untuk na
Syukron telah bersedia menjadi tempat na tuk bermanja-manja,
berkeluh kesah,
Dan syukron telah meminjamkan pundakmu ketika na menangis,
Syukron atas waktu yang engkau habiskan hanya untuk bisa
memahami na,
Ukhtiku…
Ketika wajahku mulai memudar dari ingatanmu,
Ingatlah betapa banyak waktu yang kita lewatkan bersama,
Ingatlah ketika engkau mengatakan padaku “ukhti isna ini,
siki-siki nangis, siki-siki nangis…”
Ingatlah ketika na berteriak saat engkau mulai menakutiku,
Ukhtiku…
Kita tahu pasti betapa panjangnya jalan ini,
Namun sungguh kemenangan islam hanyalah tinggal menunggu
waktu,
Dan aku ingin melihat sosokmu ketika islam kembali menjadi
pusat peradaban dunia,
Ukhtiku…
Kita sama tahu betapa angin selalu mencoba tuk menumbangkan
langkah di jalan ini,
Angin itupun semakin kencang bertiup tatkala ia sadar bahwa
jarak telah memisahkan kita,
Namun ingatlah wahai ukhtiku, betapa Allah telah memilih
kita,
Engkau yang tak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya,
Kini menjadi orang yang paling paham tentang diri ini di kota
yang sama asing bagi kita,
Ukhtiku yang na belajar banyak hal darimu…
Ketika virus kefuturan suatu hari mendatangimu,
Maka enyahkanlah ia,
Ingatlah ukhti ketika kita saling bergandeng dalam keletihan
di agenda-agenda dakwah,
Ingatlah ketika semua orang menggelarkan “As-Shobiyah” karna
langkah kita yang tak terpisah,
Ingatlah ketika kita saling memacu semangat ketika langkah
kita mulai kendur,
Ukhtiku…
Ketika engkau merasa militansimu mulai redup,
Ingatlah, ketika kita tilawah bersama di masjid kampus,
Ketika kita sholat magrib bersama dan na paksa anti tuk jadi
imam, engkaupun berkata “selalu asti, selalu asti…”
Ingatlah ketika kita sama belajar berikan yang terbaik untuk
KOMINFO,
Ingatlah betapa Hasan Al-Banna berjuang tuk melahirkan
generasi robbani dan syahid di tangan para musuh islam,
Ingatlah betapa Sayyid Quthb senantiasa di fitnah namun tetap
berdiri dengan gagah mengibarkan bendera dakwah,
Lalu bagaimana dengan kita?
Ukhtiku yang darimu aku belajar arti senyuman…
Jika suatu hari nanti Allah memberikan kesempatan pada kita
untuk kembali bertemu,
Aku ingin melihat engkau dengan penampilanmu ketika kita
berada di dakwah kampus,
Namun jika memang tak lagi ada kesempatan untuk kita untuk
saling bertemu,
Maka do’akan na agar termasuk dalam golongan orang yang
memenuhi surga Sang Illahi,
Agar ku mampu melihatmu kelak,
Ukhtiku…
Ketika engkau telah menemukan teman yang kan meringankan
langkahmu di jalan ini,
Maka akupun turut bahagia,
Semoga ia selalu jadi yang terbaik untukmu,
Yang senantiasa mengobarkan semangat dakwahmu, bukan
meredupkannya,
Yang senantiasa meridhoimu tuk merapatkan barisan di jalan
ini, bukan merenggangkannya,
Yang senantiasa menjadi imammu…
Ingatkah engkau ketika kita sama berkata Islampun tak cukup memenuhi
kriteria….
Fikroh pun menjadi tuntutan untuk kita….
Dan insya’allah engkau mendapatkan yang sefikroh dengan kita…
Ukhtiku…
Do’akan na semoga na senantiasa mampu menjaga langkah ini,
Semoga na mampu memilih pilihan yang terbaik menurut Nya
Semoga na senantiasa menjadikan dakwah sebagai nafas
kehidupan ini,
Dan semoga Allah senantiasa memilih na tuk menyelesaikan
proyek-proyek besar Nya,
Dan semoga takkan pernah terselip rasa takut untuk berkorban
jiwa dan raga na di jalan ini
Bismillahirrohmaanirrohiim
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa
ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu dijalan Allah. Yang
demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Sekiranya yang kamu serukan pada mereka ada keuntungan yang mudah
diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu,
tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan
bersumpah dengan nama Allah “jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat
bersamamu,” mereka membinasahkan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka
benar-benar orang-orang yang berdusta.
Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau member izin pada mereka
untuk tidak pergi berperang, sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar berhalangan dan sebelum engkau
mengetahui orang-orang yang berdusta?
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian tidak akan meminta izin padamu untuk
tidak ikut berjihad dengan harta dan
jiwa mereka. Allah mengetahui
orang-orang yang bertaqwa.
Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu, karena itu mereka
selalu bimbang dalam keraguan.” (Q.S. At-taubah: 41-45)
Sekali lagi, trimakasih untuk semua maafmu untukku atas
segala khilafku…
1 Muharram 1434 H