Senin, 28 Januari 2013

Begitu Aku Memintamu...


Jagalah aku wahai mentari
Sinari aku disiang dan pagi
Redupkan cahayamu ketika malam tiba
Dan begitulah engkau menyapa

Jagalah aku wahai sang surya
Meski gerhana membayangimu
Tetaplah berdiam pada titikmu
Dan kita akan saling menjaga

Jagalah aku wahai penguasa tata surya
Jangan kau terlalu mendekatkan sinarmu
Karena itu menyengat kulitku
Kau disana dan aku disini
Dan begitulah kita saling bersilahturahmi

Jagalah aku hingga garis edar itu sirnah
Dan kau berada diatas kepalaku

Apakah engkau menyadari dengan “sadar yang sebenarnya” bahwa ITU adalah duri?



Ana kecewa dengan ukhti fulan, ana ndak mau lagi ketemu dengan dia, ana mau cuti dulu dari dakwah..
Astagfirullah… begitu mudahnya kalimat itu keluar dari mulut kita. “ah itu kan sudah biasa” mungkin itu yang ada di fikiran kita. Wahai saudaraku yang senantiasa dalam lindungan Nya, mungkin itu memang kalimat yang biasa menurut bahasa, namun bukankah tidak seharusnya menjadi kalimat yang terbiasa keluar dari bibir seorang aktivis dakwah?. Seorang yang senantiasa menjaga raganya dengan balutan kain yang syar’i. Seseorang yang senantiasa menaburi hatinya dengan akhlak-akhlak yang di cintai Nya. Seseorang yang dengan sekuat tenaga mengendalikan lisannya agar tak melukai saudaranya. Seseorang yang senantiasa menangis ketika menengadahkan wajah di hadapan Nya.
Senantiasa kita dengar para ustad kita mengatakan bahwa jalan ini sangat panjang, jalan ini sungguh bertabur duri, terjal, penuh dengan badai, berbalut kabut. Begitu banyak daun yang berguguran.
Dengan khusyuknya kita mendengar semua perkataan itu. Dan mungkin saja sempat terlintas dipikiran kita “aku takkan mau menjadi daun yang berguguran. Aku tau jalan ini penuh duri. Dan aku takkan kalah dengan duri itu” ALLAHU AKBAR… subhanallah, begitulah semangat aktivis dakwah yang senantiasa membara. Amanah yang menumpukpun menjadi pembakar semangat kita untuk senantiasa istiqomah. Ukhuwahpun mampu menghempaskan semua keletihan yang bersarang diraga.
Betapa sibuknya engkau sebagai pengemban amanah dakwah. Saat seperti inilah TAFAHUM sangat dan amat diperlukan. Selalu ada riak dalam menyelesaikan amanah dakwah. Dan terkadang dan yang paling sering, kita terlupa dengan duri yang ada dijalan ini. Kita memang sadar bahwa ada “duri” di sepanjang jalan. Tapi apakah kita sadar dengan wujud dari duri itu?
Kekecewaan itu salah satu wujudnya, wahai saudaraku. Sering kita tidak menyadari wujud dari duri di jalan ini. Hal itupun membuat kata-kata kita (“aku takkan mau menjadi daun yang berguguran. Aku tau jalan ini penuh duri. Dan aku takkan kalah dengan duri itu”) yang sempat terucap hanya tersimpan rapi dalam tumpukan memori otak kita.
Hingga duri itu semakin menusuk hati kita, hingga akhirnya memudarkan tali ukhuwah yang sempat terajut kokoh.
Sering pula para ustad memberitahukan agar kita senantiasa meluruskan niat. Kita disini karna Allah ta’ala, bukan karena sahabatmu, bukan karena siapa-siapa.
Fikiran kitapun berkata “ya, aku disini karena Allah semata
Dan suatu ketika hatimu merasa kecewa dengan saudaramu, kaupun dengan cepat mengatakan “ana mau cuti dulu, ana ndak mau kemaskam kalo ada dia, ana ndak mau ikut syuro’ karena ana ndak mau ketemu dia” Astagfirullah. Itukah niat yang karena Allah ta’ala?
Seorang saudaraku berkata “ketika engkau kecewa dengan seorang saudaramu, maka jangan jauhi jama’ahmu karena sesungguhnya masalahmu adalah dengan seseorang itu, bukan dengan jama’ahnya
Seorang saudara yang satu lagi berkata “ketika engkau merasa kecewa dengan saudaramu, maka manajemen dengan baik hatimu, bukan dengan cara cuti dari jama’ah, itu artinya kau mengorbankan jama’ah hanya karena satu orang.”
KECEWA. Wahai saudaraku, ketika kita mencoba tidak mendramatisir masalah kekecewaan, sesungguhnya banyak amanah yang lebih harus kita fikirkan dari pada menuruti nafsu kita untuk memberikan tempat pada “KEKECEWAAN” untuk mengontrak hati kita.
KECEWA. Sudah sewajarnya ada. Sulit, sakit, dan menyesakkan memang ketika kita berusaha melawan virus kekecewaan ketika ia mulai merasuk. YA. Memang begitulah rasanya, karena hal yang kita perjuangkan juga begitu berharga. LANGKAHMU dijalan ini sungguh sangat amat teramat BERHARGA ketika terhempas karena kekecewaan. SAUDARAMU yang senantiasa memberikan pundaknya ketika engkau mulai lelah, terlalu BERHARGA untuk kau tinggalkan. MUROBBI mu yang senantiasa dengan peluh berbalut keikhlasan ketika membinamu, pasti akan meneteskan air matanya ketika melihat engkau menjauh dari jalan ini. PARA ADIK TINGKATMU yang sama berjuang di jalan ini pasti akan begitu merasa kehilangan, kehilangan SOSOK TAULADAN yang selama ini mereka banggakan.
Mari belajar bersama. Belajar menyadari dengan penuh kesadaran dan kewaspadaan akan wujud dari duri-duri yang senantiasa mengincar hati kita. Hempaskan saja bisikan kekecewaan yang mulai merasuk ke hati kita yang kemudian kan menjalar ke otak kita.
Terlalu berharga wahai saudaraku, terlalu berharga ukhuwah yang telah terjalin, terlalu berharga langkahmu ketika kau niatkan untuk melangkah mundur, terlalu berharga ketika hatimu dirajai dengan kekecewaan.
Lalu apa yang engkau dapat ketika engkau memelihara kekecewaan itu?
Nafsumu menang? YA
Hatimu lega? HANYA SESAAT
Kau kan kehilangan banyak saudara? YA
Dan Kau akan menyesalinya suatu saat nanti? PASTI

Mengapa kita tak saling membangun saja?


Pergerakan bukanlah menjadi hal yang asing lagi di telinga kita. Organisasi-organisasi pergerakan Islam pun mulai bermunculan di tanah air tercinta kita ini. organisasi yang mengatasnamakan organisasi dakwah ini semakin melaju dalam menegakkan syariat Islam hingga ke pelosok negeri.
Subhanallah… itulah yang mampu saya katakan. Betapa terharunya saya menyaksikan para aktivis dakwah yang semangatnya berkobar-kobar. Duch, rindu di dada akan kemenangan Islam pun terasa tersiram dengan melihat para aktivis dakwah yang tak kenal kata lelah meski jalan mereka begitu berduri.  Sebagian dari mereka mengatakan bahwa duri itulah seni dalam jalan ini. Subhanallah…
Sering ku teteskan air mata ini ketika melihat kekompakan langkah mereka dalam memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Betapa mereka bersabar bersama dalam segunduk cemoohan orang-orang, betapa mereka menangis bersama, namun tetap tersenyum dalam kelelahan. Sering ingin kuteriakkan pada para yahudi itu, kami disini masih tegap berdiri dalam barisan yang kokoh. Ingin ku buat nyali mereka menciut dengan langkah kami dalam jama’ah dakwah.
Namun,…….
Perpecahan pun tak terelakkan. Namun bukankah perbedaan tidak selalu berarti permusuhan?. Perbedaan memang selalu ada. Namun bukankah yang lebih baik adalah ketika kita saling menjaga persaudaraan yang mutlaknya telah ada diantara kita?.
Hasan Al-Banna mengatakan “Mari kita saling bekerjasama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat”
Senjata kita adalah untuk melawan para kafir laknatullah, untuk melawan kezhaliman di sekitar kita. Tak pantaslah ketika senjata kita malah kita hadapkan pada saudara-saudara kita sendiri. Sungguh kita bersaudara dalam ikatan syahadat.
Inginkah engkau memenangkan dakwahmu atas Islam ini wahai saudaraku yang kucintai karena Allah?. Maka mari bersama-sama memenangkan bendera Islam. Bukan bendera-bendera yang lain.
Bukankah bersama jauh lebih hebat? Bukankah Allah menyukai orang-orang dalam barisan yang kokoh dan rapi? Engkau dan aku, Insya’allah sama-sama berniat bekerja untuk Nya. Maka mari kita belajar saling membangun. Berjuang bersama. Tanpa menyimpan penyakit hati di antara kita.
Untuk saudaraku di jalan dakwah

Lalu Apa Sebenarnya???


Mentari tak menyembulkan sinarnya hari ini
Guyuran hujan menyambut pagi penuh kabut
Menidurkan jiwa-jiwa yang tak tau akan arah langkah
Dan aku disini berteman luka
Cubitlah aku dengan panasmu wahai sang surya
Tamparlah aku dengan hujaman air wahai hujan
Lalu kembalikan senyum itu padaku
Sayup mentari seolah menenggelamkan hati
Menentramkan jiwa dalam hampa
Meraih angan yang tertelan masa
Dan aku disini berteman tawa
Tak pernah kupaham akan dunia
Seolah bersembunyi dibalik kedipan mata

Sabtu, 05 Januari 2013


Enam sayap burung beristirahat,
Memilih tangkai tertinggi menjulang menggapai biru awan
Saling berceloteh, celoteh tentang impian
Impian kepakan sayap
Menjelajah dalam satu peta kehidupan
Satu kepakan, dua kepakan, tiga kepakan…
Celotehpun mulai terhapus
Kaki-kaki kembali hinggap,
Tangkai-tangkai menjulang menyambar awan, menghadang angin
Satu tangkai, dua tangkai…
Husssss… angin menghempas..
Menyapu tangkai kehidupan
Satu tangkai, dua tangkai, dan kini tiga tangkai
Kepakan kembali mengudara
Meniti jalan dalam dua sayap
Hilang, hilang sudah enam sayap lalu
dua sayap… dua sayap… dua sayap
meniti tiga peta kehidupan