Sabtu, 22 Februari 2014

Berceloteh pada rintik hujan



Bismillahirrohmanirrohim…
Berhari-hari sudah setiap insan menunggu tetesan air hujan yg tlah lama tak menyapa tanah dimana mereka berpijak. Semua saling berdo’a mengharap kedatangannya. Panasnya udara yang menyengat kerongkongan, membuat tubuh merasa lebih cepat letih dengan keringat yang bercucuran.
Ketika tetesan air hujan itu mulai menyapa, begitu banyak sorak terdengar di sana- sini, syukur pun terlantun dari beberapa bibir yang tlah lama bermohon pada Nya. Dan kini hari-hari pun berbalut mendung yang telah memenangkan pergulatan dengan sang surya.
Hampir setiap sore hujan pun turun. Dan hampir setiap sore pula aku berceloteh padanya. Mencelotehkan segala yang terpendam di dada dan sering tak mampu aku ungkap. Tetesan hujan itu terkadang membuat kita mengingat yang sempat terlupa. Mengbangkitkan jiwa yang tak lagi bersemangat. Bahkan menghadirkan tawa pada bibir yang tlah terlupa.
Tetesan hujan itu seakan berceloteh padaku. Ia menyapa tanganku dengan dinginnya. Seakan berujar “bagaimana kabar komitmenmu kawan?”. Akupun tersentak dengan dinginnya. Mengingat kembali masa gemilangnya semangat itu. Saat aku dan teman-temanku mengatakan komitmen adalah totalitas dalam perjuangan. Sudahkan kalimat itu beku dalam dingin sore ini? Akupun sedang berfikir.
Ia menyapa dengan percikan gerimis yang menyapu hijab ini. Seakan berujar “bagaimana kabar izzahmu kawan? Masihkan terjaga dalam mulianya akhlak?”. Ah bak diguyur air es se-tong. Khilaf yang masih saja senantiasa menyapa diri ini, seakan mengikis prinsip yang sempat terbangun. Ah aku harus kembali waspada pada senyum-senyum yang mengganggu jiwa agar ia takkan merobek sebongkah izzah.
Kadang aku menginjaknya dan ingin kudengar apa yang akan ia katakan. Ia berteriak padaku “masihkah kakimu tegap melangkah meraih visi kehidupan yang sempat engkau rencanakan?”. Allah… kini aku berfikir keras apa saja visi kehidupan itu? Ah seakan aku tak menyadari bahwa aku sempat dengan lantang mengucapkannya. Dimana aku taruh semua itu? Akupun sedang mencarinya kembali.
Sampai kapan engkau akan senantiasa datang berceloteh padaku? Inilah yang membuatku senantiasa tersenyum ketika melihat mendung, karena aku tahu rintik hujan itu senantiasa mengingatkanku untuk memaknai kehidupan ini. Mengingatkanku tentang siapa aku, untuk apa aku disini, hingga aku tahu kemana aku akan melangkah.
ia semakin deras berjatuhan, dan aku semakin termenung dalam lamunan. Bukan, bukan sekedar melamun, tapi aku sedang mengumpulkan puing-puing iman untuk membangunnya kembali. Ah, aku tak mau malu lagi pada tetesan hujan itu. Agar kelak ketika ia datang kembali berceloteh padaku, aku bisa berceloteh padanya dengan bangga. Inilah aku dan imanku.

Ketika Hati Memilih Untuk Membisu…



Kemarin masih ku lihat mereka menunduk santun di depan para tetua
Kemarin masih ku lihat mereka menjulurkan pakaian sopan berbalut krama yang menambah keanggunan
Kemarin masih aku lihat malu yang menghiasi senyum mereka
Malu yang menjaga mereka untuk senantiasa menjaga lisan sebelum berkata
Malu yang menjaga langkah sebelum bertindak
Malu yang menjaga hati mengingatkan akhlak yang syar’i

Itulah kemarin kawan…
Kini mereka bagaikan raja yang memegang dunia
Ilmu dan pengetahuan yang mengantar mereka menggapai cita
Seakan tak ada campur tangan Sang Pencipta
Langkah mereka seakan tegap menantang dunia

Dada mereka membusung lupa akan kebesaran Nya
Seakan raga takkan berpisah dengan jiwa
Hingga bibir senantiasa tertawa bangga
Melupakan hati yang sedang rindu akan munajat pada Nya
Namun fikri senantiasa membuyarkannya
Apakah jiwa masih senantiasa tentram dengan apa yang ada?

Bila ridho Nya tak lagi menghiasi diri
Bisakah engkau bayangkan apa yang akan terjadi?