Minggu, 03 Juni 2012

Ramadhan Tak Mengembangkan Senyumku…

Ramadhan pun telah tiba
Ribuan senyumpun mulai mengembang
Puluhan SMS terkirim teriring pinta maaf atas semua khilaf
Hati-hati yang mendungpun mulai benderang
Namun tidak dengan hatiku
Dikala seorang anak berlari ke pangkuan ibunya,
Berujar “ramadhan telah tiba ummi…”
Sosok malaikat itupun mengelus lembut kepala sang anak
Namun tak kudapat belaian lembut itu
Hanya seuntai suara rentah yang kudengar
“Ndok, hari ini hari pertama puasa, semangat ya… sahur yang banyak, tilawahnya jangan ketinggalan, marahnya ditahan lho ya….”
Sungguh…
seuntai kata itu telah mengobati rindu yang membludak di hati
meneteskan setitik air mata

duch Ya Illahi Robb..
begitu engkau mengajarkanku menjadi insan yang kuat
meski tak mampu ku tengok wajah sendu itu di ramadhan tahun ini,
meski hanya merdu suaranya yang menemaniku dalam hari-hari ramadhan
sungguh cukup bagiku mendengar sepenggal tawanya
bukankah jauh dilubuk hatinya air matanyapun mengucur deras untukku juga
kedatanganku dihari-hari ramadhannya sungguh pasti akan membuat senyumnya mengembang berbenih kebanggaan di dadanya
namun ketegaranku bertahan disini menjalani hari ramadhan tanpanya sungguh jauh lebih mengembangkan senyum yang berbuah kebanggaan dihatinya
begitulah caraku persembahkan yang terbaik untuknya…
Ummi…  ajarkanku menuai rindu untukmu…
Ms
Untuk para saudara diperantauan…

Juni yang Mendung


Duri itu kembali menusukku
Kali ini bukan hanya pada hatiku, namun juga pada jantungku
Begitu jalan ini mengujiku
Begitu Dia mengajariku untuk lebih menegakkan langkah
Sempat terlintas dibenak ini
“Ya Illahi, bolehkah ku duduk sebentar hingga darah yang mengucur ini berhenti???
Bolehkah ku beristirahat sejenak untuk menghela nafas yang mulai tersenggal-senggal ini???”
Jawaban yang ada adalah “silahkan… ketika engkau duduk dan beristirahat, maka orang-orang disampingmu akan tetap melangkah mengisi barisan kosong yang engkau tinggal duduk itu.”

Sungguh merugilah bagi mereka yang berfikir bahwa dakwah membutuhkan dirinya, karena sesungguhnya dirinyalah yang membutuhkan dakwah. Dirinyalah yang membutuhkan jalan ini.
Aturlah nafasmu dengan baik hingga ketika duri-duri itu menusukmu, nafasmu takkan terlalu tersenggal-senggal hingga mengharuskanmu untuk duduk dan beristirahat.
 “……serulah manusia mengerjakan yang ma’ruf, mencegah mereka dari perbuatan munkar dan bersabarlah atas apa yang menimpa kamu…….” (QS. Lukman: 17).
Begitulah terjalnya jalan ini kawan, hingga Allah meminta kita untuk bersabar atas apa yang menimpa kita. Begitulah Allah memberitahu dan mengingatkan kita akan beratnya menegakkan langkah dijalan ini.
Wahai kawan… sungguh begitu berat jalan ini bila engkau mencoba menapakinya sendiri, bukankah begitu?
Itulah kenapa Rasulullah mengajak Abu Bakar dalam dakwahnya…
Itulah kenapa aku membutuhkanmu disini.. dalam dakwah ini…
Sungguh terasa begitu berat amanah ini ketika hanya pundak ini yang memikulnya
Tak tahukah engkau wahai kawan bahwa kubutuh pundakmu untuk bersama memikul amanah ini?
Setidaknya senyummu hadir ketika beban dipundak ini terasa membludak…
Setidaknya semangatmu memberikan teladan bagiku untuk terus melangkah
Setidaknya  pemikiranmu mengajariku untuk terus bergerak
Karena kita saudara, karena kita sama melangkah dijalan ini, karena kita sama melingkar merajut ukhuwah…