Bismillahirrohmanirrohim…
Berhari-hari sudah
setiap insan menunggu tetesan air hujan yg tlah lama tak menyapa tanah dimana
mereka berpijak. Semua saling berdo’a mengharap kedatangannya. Panasnya udara
yang menyengat kerongkongan, membuat tubuh merasa lebih cepat letih dengan
keringat yang bercucuran.
Ketika tetesan air
hujan itu mulai menyapa, begitu banyak sorak terdengar di sana- sini, syukur
pun terlantun dari beberapa bibir yang tlah lama bermohon pada Nya. Dan kini
hari-hari pun berbalut mendung yang telah memenangkan pergulatan dengan sang
surya.
Hampir setiap sore
hujan pun turun. Dan hampir setiap sore pula aku berceloteh padanya.
Mencelotehkan segala yang terpendam di dada dan sering tak mampu aku ungkap.
Tetesan hujan itu terkadang membuat kita mengingat yang sempat terlupa. Mengbangkitkan
jiwa yang tak lagi bersemangat. Bahkan menghadirkan tawa pada bibir yang tlah
terlupa.
Tetesan hujan itu
seakan berceloteh padaku. Ia menyapa tanganku dengan dinginnya. Seakan berujar
“bagaimana kabar komitmenmu kawan?”. Akupun tersentak dengan dinginnya.
Mengingat kembali masa gemilangnya semangat itu. Saat aku dan teman-temanku
mengatakan komitmen adalah totalitas dalam perjuangan. Sudahkan kalimat itu
beku dalam dingin sore ini? Akupun sedang berfikir.
Ia menyapa dengan
percikan gerimis yang menyapu hijab ini. Seakan berujar “bagaimana kabar
izzahmu kawan? Masihkan terjaga dalam mulianya akhlak?”. Ah bak diguyur air es
se-tong. Khilaf yang masih saja senantiasa menyapa diri ini, seakan mengikis
prinsip yang sempat terbangun. Ah aku harus kembali waspada pada senyum-senyum
yang mengganggu jiwa agar ia takkan merobek sebongkah izzah.
Kadang aku
menginjaknya dan ingin kudengar apa yang akan ia katakan. Ia berteriak padaku
“masihkah kakimu tegap melangkah meraih visi kehidupan yang sempat engkau
rencanakan?”. Allah… kini aku berfikir keras apa saja visi kehidupan itu? Ah
seakan aku tak menyadari bahwa aku sempat dengan lantang mengucapkannya. Dimana
aku taruh semua itu? Akupun sedang mencarinya kembali.
Sampai kapan engkau
akan senantiasa datang berceloteh padaku? Inilah yang membuatku senantiasa
tersenyum ketika melihat mendung, karena aku tahu rintik hujan itu senantiasa
mengingatkanku untuk memaknai kehidupan ini. Mengingatkanku tentang siapa aku,
untuk apa aku disini, hingga aku tahu kemana aku akan melangkah.
ia semakin deras
berjatuhan, dan aku semakin termenung dalam lamunan. Bukan, bukan sekedar
melamun, tapi aku sedang mengumpulkan puing-puing iman untuk membangunnya kembali.
Ah, aku tak mau malu lagi pada tetesan hujan itu. Agar kelak ketika ia datang
kembali berceloteh padaku, aku bisa berceloteh padanya dengan bangga. Inilah
aku dan imanku.