Ana kecewa dengan ukhti fulan, ana ndak mau lagi ketemu dengan dia, ana
mau cuti dulu dari dakwah..
Astagfirullah… begitu mudahnya
kalimat itu keluar dari mulut kita. “ah
itu kan sudah biasa” mungkin itu yang ada di fikiran kita. Wahai saudaraku
yang senantiasa dalam lindungan Nya, mungkin itu memang kalimat yang biasa
menurut bahasa, namun bukankah tidak seharusnya menjadi kalimat yang terbiasa
keluar dari bibir seorang aktivis dakwah?. Seorang yang senantiasa menjaga
raganya dengan balutan kain yang syar’i. Seseorang yang senantiasa menaburi
hatinya dengan akhlak-akhlak yang di cintai Nya. Seseorang yang dengan sekuat
tenaga mengendalikan lisannya agar tak melukai saudaranya. Seseorang yang
senantiasa menangis ketika menengadahkan wajah di hadapan Nya.
Senantiasa kita dengar para ustad
kita mengatakan bahwa jalan ini sangat panjang, jalan ini sungguh bertabur
duri, terjal, penuh dengan badai, berbalut kabut. Begitu banyak daun yang
berguguran.
Dengan khusyuknya kita mendengar
semua perkataan itu. Dan mungkin saja sempat terlintas dipikiran kita “aku takkan mau menjadi daun yang berguguran.
Aku tau jalan ini penuh duri. Dan aku takkan kalah dengan duri itu” ALLAHU
AKBAR… subhanallah, begitulah semangat aktivis dakwah yang senantiasa membara. Amanah
yang menumpukpun menjadi pembakar semangat kita untuk senantiasa istiqomah.
Ukhuwahpun mampu menghempaskan semua keletihan yang bersarang diraga.
Betapa sibuknya engkau sebagai
pengemban amanah dakwah. Saat seperti inilah TAFAHUM sangat dan amat
diperlukan. Selalu ada riak dalam menyelesaikan amanah dakwah. Dan terkadang
dan yang paling sering, kita terlupa dengan duri yang ada dijalan ini. Kita
memang sadar bahwa ada “duri” di sepanjang jalan. Tapi apakah kita sadar dengan
wujud dari duri itu?
Kekecewaan itu salah satu wujudnya,
wahai saudaraku. Sering kita tidak menyadari wujud dari duri di jalan ini. Hal
itupun membuat kata-kata kita (“aku
takkan mau menjadi daun yang berguguran. Aku tau jalan ini penuh duri. Dan aku
takkan kalah dengan duri itu”) yang sempat terucap hanya tersimpan rapi
dalam tumpukan memori otak kita.
Hingga duri itu semakin menusuk
hati kita, hingga akhirnya memudarkan tali ukhuwah yang sempat terajut kokoh.
Sering pula para ustad memberitahukan
agar kita senantiasa meluruskan niat. Kita disini karna Allah ta’ala, bukan
karena sahabatmu, bukan karena siapa-siapa.
Fikiran kitapun berkata “ya, aku disini karena Allah semata”
Dan suatu ketika hatimu merasa
kecewa dengan saudaramu, kaupun dengan cepat mengatakan “ana mau cuti dulu, ana ndak mau kemaskam kalo ada dia, ana ndak mau
ikut syuro’ karena ana ndak mau ketemu dia” Astagfirullah. Itukah niat yang
karena Allah ta’ala?
Seorang saudaraku berkata “ketika engkau kecewa dengan seorang
saudaramu, maka jangan jauhi jama’ahmu karena sesungguhnya masalahmu adalah
dengan seseorang itu, bukan dengan jama’ahnya”
Seorang saudara yang satu lagi
berkata “ketika engkau merasa kecewa
dengan saudaramu, maka manajemen dengan baik hatimu, bukan dengan cara cuti
dari jama’ah, itu artinya kau mengorbankan jama’ah hanya karena satu orang.”
KECEWA. Wahai saudaraku, ketika
kita mencoba tidak mendramatisir masalah kekecewaan, sesungguhnya banyak amanah
yang lebih harus kita fikirkan dari pada menuruti nafsu kita untuk memberikan
tempat pada “KEKECEWAAN” untuk mengontrak hati kita.
KECEWA. Sudah sewajarnya ada.
Sulit, sakit, dan menyesakkan memang ketika kita berusaha melawan virus
kekecewaan ketika ia mulai merasuk. YA. Memang begitulah rasanya, karena hal
yang kita perjuangkan juga begitu berharga. LANGKAHMU dijalan ini sungguh
sangat amat teramat BERHARGA ketika terhempas karena kekecewaan. SAUDARAMU yang
senantiasa memberikan pundaknya ketika engkau mulai lelah, terlalu BERHARGA
untuk kau tinggalkan. MUROBBI mu yang senantiasa dengan peluh berbalut
keikhlasan ketika membinamu, pasti akan meneteskan air matanya ketika melihat
engkau menjauh dari jalan ini. PARA ADIK TINGKATMU yang sama berjuang di jalan
ini pasti akan begitu merasa kehilangan, kehilangan SOSOK TAULADAN yang selama
ini mereka banggakan.
Mari belajar bersama. Belajar
menyadari dengan penuh kesadaran dan kewaspadaan akan wujud dari duri-duri yang
senantiasa mengincar hati kita. Hempaskan saja bisikan kekecewaan yang mulai
merasuk ke hati kita yang kemudian kan menjalar ke otak kita.
Terlalu berharga wahai saudaraku,
terlalu berharga ukhuwah yang telah terjalin, terlalu berharga langkahmu ketika
kau niatkan untuk melangkah mundur, terlalu berharga ketika hatimu dirajai
dengan kekecewaan.
Lalu apa yang engkau dapat ketika
engkau memelihara kekecewaan itu?
Nafsumu menang? YA
Hatimu lega? HANYA SESAAT
Kau kan kehilangan banyak saudara?
YA
Dan Kau akan menyesalinya suatu
saat nanti? PASTI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar