1. LATAR BELAKANG
Bahasa Indonesia merupakan pendukung kebudayaan Indonesia. Makin bertambah tinggi kebudayaan bangsa Indonesia, makin tinggi Bahasa Indonesia. Semakin luas pengetahuan bahasa yang digunakan dalam komunikasi, semakin meningkat kemampuan dalam memberi makna suatu kata atau kalimat.
Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang ada sejak pendidikan dasar hingga pendidikan di perguruan tinggi. Meskipun mata pelajaran Bahasa Indonesia telah ada sejak pendidikan dasar, penerapan Bahasa Indonesia dalam masyarakat masih sering tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tidak jarang pula ditemukan kesalahan-kesalahan penggunaan Bahasa Indonesia dalam penulisan karya tulis ilmiah.
Dewasa ini banyak pelajar yang sering menganggap Bahasa Indonesia sebagai pelajaran yang mudah. Namun pada kenyataannya, mereka masih sering mengalami kesulitan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Kasus yang sering terjadi misalnya, pelajar sulit membedakan antara kata konkret dengan kata abstrak. Dua jenis kata ini sering di anggap sebagai hal yang mudah oleh para pelajar, namun dalam prakteknya mereka masih sering salah dalam mengelompokkan dua jenis kata ini.
Pemahaman para pelajar tentang kata konkret dalam Bahasa Indonesia bisa dibilang masih kurang. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya minat mereka untuk belajar Bahasa Indonesia dengan sungguh-sungguh. Untuk membantu para pelajar agar lebih mudah memahami kata konkret Bahasa Indonesia, maka saya menulis artikel tentang kata konkret Bahasa Indonesia. Artikel ini diharapkan dapat membantu para pelajar dalam mempelajari kata konkret Bahasa Indonesia sehingga dapat mengurangi tingkat persentase pelajar yang tidak memahami kata konkret Bahasa Indonesia.
2. PERMASALAHAN
Dari latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka permasalahan yang terdapat dalam artikel ini adalah :
Apa yang dimaksud dengan kata kongkret Bahasa Indonesia ?
3. PENGERTIAN
Istilah “kata” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988:395) adalah, “kata adalah (1) unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa; (2) ujar, bicara; (3) satuan (unsur) bahasa yang terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas”. Pandangan Alisjahbana ( I. 1978:58) yang berbunyi, “kata adalah astuan kumpulan bunyi atau huruf yang terkecil yang mengandung pengertian”.
Pendapat lain dikemukakan oleh Keraf (1978:57) yang berbunyi, “kata adalah kesatuan-kesatuan yang terkecil yang diperoleh sesudah sebuah kalimat dibagi atas bagian-bagiannya, dan yang mengandung suatu ide”. Sedangkan Harimurti (1982:76) mengatakan, “kata, (1) morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas; (2) satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem”.
Anton M. Moeliono berpendapat bahwa kata konkret adalah kata yang mengacu ke barang yang spesifik di dalam pengalaman kita. Prof. Dr. H. Mansoer Pateda mengemukakan bahwa kata konkret adalah kata-kata yang acuannya nyata, kata-kata yang acuannya dapat didindera. Kata-kata seperti buku, kapur, papan tulis, tinta, adalah sebagian dari kata-kata yang termasuk kosakata konkret. Kata-kata ini wujudnya dapat dilihat, dapat diindera.
Pada abad ke-16, seorang ahli tatabahasa Spanyol, Sanches de las Brozas mendefinisikan bahwa kata-kata benda konkret (kata konkret) adalah nama dari benda-benda yang dapat ditangkap dengan pancaindera, Kata benda konkret selanjutnya dibagi lagi atas; nama diri, nama zat dan lain sebagainya.
4. PEMBAHASAN
Kata "kata" dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Sansekerta kathā. Dalam bahasa Sansekerta kathā sebenarnya artinya adalah "konversasi", "bahasa", "cerita" atau "dongeng". Dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantis menjadi "kata". Suatu kata merupakan bagian dari sistem komunikasi. Penguasaan terhadap suatu kata maupun kosakata dapat mempengaruhi tingkat berbahasa kita sehingga akan berpengaruh pula terhadap tingkat efektifitas kita dalam berkomunikasi.
Kata-kata konkret adalah kata-kata yang menunjuk kepada objek yang dilihat, didengar, disarakan, diraba, atau dibau. Kata-kata konkret lebih mudah dipahami dari pada kata-kata abstrak. Kata yang acuannya semakin mudah diserap panca indra disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Kata-kata konkrit dapat lebih efektif jika dipakai dalam karangan narasi atau deskripsi sebab, dalam merangsang panca indra. Karena itu, dalam karangan sebaiknya dipakai kata konkret sebanyak-banyaknya agar karangan itu menjadi lebih jelas. Kata konkret merujuk kepada objek yang dapat diserap oleh panca indera.
Kata Abstrak Kata Konkret
kemakmuran sandang, pangan, papan
pembangunan mendirikan rumah, membangun jalan
demokrasi musyawarah, pemungutan suara
Dan suatu kata mempunyai pengertian konkret apabila ia menunjuk kepada suatu benda, orang atau apa saja yang mempunyai eksistensi tertentu seperti : Mobil, Motor, TV, Meja, Kursi, Orang batak itu, Orang Jawa itu, Rumah dan lain-lain.
Kata ‘orang batak’ dan ‘orang jawa’ jika dimaksudkan adalah sekelompok orang yang tinggal di Medan atau di Jawa Tengah, maka dia akan bermakna konkret. Konkret, karena jelas yang dimaksudkan adalah tentang keberadaan (eksistensi) sekelompok orang. Tetapi jika maksud sipenutur adalah tentang sifat, cara dan sikap hidup orang jawa dan orang batak, maka pengertian kata tersebut berubah menjadi kata abstrak. Sebaliknya, Kesehatan, Kebodohan, Kepandaian, Kekayaan, Kemiskinan juga bisa berubah maknanya menjadi kata konkret jika ia menunjuk kepada suatu benda, orang atau apa saja yang mempunyai eksistensi tertentu.
Untuk memudahkan kita dalam membedakan pengertian kata abstak dan konkret, berikut ini adalah contoh kata yang mempunyai pengertian konkret :
Kebaikan anda tidak mungkin terlupakan.
Kesempurnaan lukisan ini mengagumkan banyak pengunjung.
Kekayaan Bill Gate bernilai Milyaran Dollar.
Kenakalan remaja membikin gerah Pemda DKI.
Sedangkan pada pernyataan berikut ini, pengertian kata-kata yang bergaris miring dan tebal itu berubah menjadi kata Abstrak :
Kebaikan adalah perbuatan yang sangat diharapkan.
Kesempurnaan adalah tanda kesungguhan dalam berusaha dan berkarya.
Kekayaan dapat membuat orang lupa kepada Tuhan
Kenakalan adalah sikap yang perlu mendapat perhatian khusus.
Kepiawaian dalam membedakan makna konkret dan abstark ini sangat berguna dalam banyak kajian sosial, politik, agama dan filsafat.
Kata-kata mana yang sebaiknya digunakan di dalam sebuah karangan?. Jawabannya tergantung kepada jenis dan tujuan penulisan. Karangan yang menekankan deskripsi faktual tentulah lebih memprioritaskan kata-kata konkret. Kata-kata konkret menjadi efektif di dalam karangan deskripsi karena dapat merangsang pancaindra. Akan tetapi, jika yang dikemukakan adalah generalisasi-generalisasi, tentu akan lebih banyak digunakan kata-kata abstrak. Walaupun tidak mutlak, pemakaian kata-kata konkret dapat menjadikan sebuah karangan lebih jelas dan mudah dipahami. Sebaliknya, kata-kata abstrak umumnya lebih sulit dipahami daripada kata-kata konkret.hal itu karena kata konkret dapat kita pahami atau rasakan dengan panca indera kita sedangkan kata abstrak hanya bisa kita bayangkan dan fikirkan saja sehingga pemahaman terhadap kata konkret relatif mudah.
Ada dua jenis penambahan kosa kata (1) horisontal dan (2) vertikal. Penambahan kosa kata secara horisontal adalah mampu memahami kosa kata konkret dan dapat menggunakan kata secara tepat. Ada pun vertikal adalah peningkatan jumlah kosa kata konkret dan abstrak yang dipahami dan digunakan secara tepat. Misalnya kata besar dapat dimaknai tinggi. Sehingga penambahan kosa kata vertikal dan horisontal ini saling berhubungan.
Orang yang memiliki kemampuan memilih kata adalah orang harus (a) memiliki kosakata, (b) memahami makna kata tersebut, (c) memahami cara pembentukannya; (d) memahami hubungan-hubungannya, dan (e) memahami cara merangkaikan kata menjadi kalimat yang memenuhi kaidah struktural dan logis. Pengetahuan tentang kosakata konkret sangat dibutuhkan dalam pemilihan kosakata. Memahami kosakata konkret akan membantu dalm memahami makna yang terkandung dalam suatu kata atau kalimat.
Nomina atau kata benda adalah kelas kata yang menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan. Kata benda dapat dibagi menjadi dua: kata benda konkret untuk benda yang dapat dikenal dengan panca indera (misalnya buku), serta kata benda abstrak untuk benda yang menyatakan hal yang hanya dapat dikenal dengan pikiran (misalnya cinta). Sehingga dapat dipahami bahwa kata konkret identik dengan kata benda yang bisa dikenal oleh panca indera.
Dalam persoalan kata benda, bahasa-bahasa Barat, khususnya bahasa Yunani-Latin, mempunyai ciri-ciri yang khusus untuk menunjukkan bahwa kata tersebut adalah kata benda. Ciri-ciri itu meliputi:
Perubahan bentuk berdasarkan fungsi kata itu dalam sebuah kalimat ( Casus ).
Perubahan bentuk berdasarkan jumlah dari kata benda itu ( Numerus ). Bahasa Latin mengenal dua numeri: Singularis dan Pluralis atau Tunggal dan Jamak, sedangkan bahasa-bahasa Yunani dan Sansekerta mengenal tiga numeri: Singularis, Dualis dan Pluralis.
Jenis kata dari kata benda itu (genus atau gender).
Semua ciri itu tidak bisa diterapkan dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak menganal akan adanya casus, tidak mengenal akan adanya numerus juga tidak mengenal genus . Kita tidak perlu merasa bahwa bahasa Indonesia kekurangan sesuatu atau miskin akan sesuatu bentuk atau konsep. Tiap bahasa memiliki sifat-sifat yang khas. Sistem bahasa Indonesia dalam dirinya sendiri cukup sempurna untuk mengungkapkan segala sesuatunya sebagai pendukung kebudayaan bangsa Indonesia . Untuk itu perlu kita menggali (bukan meniru-niru) ciri-ciri yang masih tersembunyi dalam struktur bahasa ini, untuk dijadikan ciri kata bendanya.
Kosakata konkret sering digunakan dalam segala bidang terutama dalam bidang perdagangan misalnya uang, pasar dan peti kemas, dan dalam bidang perukanan misalnya ikan, laut, sungai, es dan lain sebagainya. Sedangkan dalam bidang keagamaan sering dipakai kosakata abstrak, misalnya dosa, pahala, iman dan lain sebagainya.
5. SIMPULAN
Dari data yang telah didapat, maka dapat disimpulkan bahwa kata kongkret Bahasa Indonesia adalah kata yang merujuk kepada objek yang dapat diserap oleh panca indera. Sehingga suatu kata mempunyai pengertian konkret apabila ia merunjuk kepada suatu benda, orang atau apa saja yang mempunyai eksistensi tertentu. Kata konkret juga bisa di identikkan dengan kata benda karena pada umumnya kata konkret banyak berupa sebagai kata benda.
Kata konkret sangat berpengaruh dalam pemilihan kata. Hal ini disebabkan karena pemilihan suatu kata sangat mempengaruhi makna dari kalimat tersebut sehingga perlu dipahami secara mendetail tentang jenis kata yang akan digunakan.
Penggunaan kata konkret tidak hanya pada satu bidang, namun juga dalam semua bidang. Sehingga pemahaman tentang kata konkret perlu dipermantap untuk membantu mengidentifikasi makna dari suatu kata maupun kalimat dalam semua bidang.
6. DAFTAR PUSTAKA
http://7assalam9.wordpress.com/ketepatan-pilihan-kata/
http://ivaa-aksara.org/2009/04/19/diksi-dan-kalimat-efektif/
http://parapemikir.com/abstrak-dan-konkrit.html
http://tata-bahasa.110mb.com/Kata%20Benda%20-%20Tradisional.htm
http://uinsuka.info/sukapressonline/index.php?option=com_content&task=view&id=29&Itemid=1
Kosasih E. 2007. Bahasa Indonesia untuk SMA/MA. Bandung:YRAMA WIDYA
Pateda Mansoer. 1995. Kosakata dan Pengajarannya. Ende: Nusa Indah
Pateda Mansoer. 1991. Linguistik Terapan. Ende: Nusa Indah
halo salam kenal.
BalasHapusmo tanya klo pengertian benda konkret sama tidak dgn kata konkret? sekalian minta buku sumbernya juga dicantumin dong. buat teori skripsi ku
susah bgt cr teori ttg benda konkret. mohon bantuannya yah.